PENDIDIKAN DI LINGKUNGAN MILITER

Pendidikan sebagai salah satu fungsi organik militer Angkatan Darat, berperan dalam menyiapkan sumber daya manusia Prajurit Angkatan Darat agar memiliki kriteria profesional. Pembinaan pendidikan sangat berpengaruh langsung terhadap pengisian personel yang dibutuhkan oleh seluruh organisasi di jajaran Angkatan Darat dalam rangka menunjang kelancaran pencapaian tugas pokok Angkatan Darat.
Kemampuan personel yang mengawaki organisasi di jajaran Angkatan Darat, sangat ditentukan oleh kualitas keluaran hasil didik dari setiap lembaga pendidikan sesuai persyaratan kebutuhan kemampuan yang diperlukan oleh bagian-bagian organisasi yang ada di jajaran Angkatan Darat. Mengingat sangat penting dan dominannya peran lembaga pendidikan dalam membentuk sumber daya manusia di lingkungan Angkatan Darat, maka dalam penyelenggaraan pendidikannya harus disiapkan dan dibina secara benar dan tepat sesuai kebutuhan aspek pendidikan yang meliputi pola dan struktur, komponen, penyelenggaraan, lingkungan, validasi dan pengembangan pendidikan.
Mengacu kepada postur TNI AD yang profesional, efektif, efisien dan modern, maka pendidikan sebagai salah satu fungsi organik militer TNI AD, berperan dalam menyiapkan sumber daya manusia agar memiliki kemampuan yang profesional dan memenuhi aspek fungsional dalam pengisian personel yang dibutuhkan oleh seluruh organisasi di jajaran TNI AD serta memiliki jati diri TNI dalam rangka pencapaian tugas pokok TNI AD.
Dalam melaksanakan fungsi sebagai kekuatan pertahanan, pendidikan TNI AD berperan membentuk dan mengembangkan Peserta Didik, sehingga memiliki jiwa juang yang berdasarkan Sapta Marga dan Sumpah Prajurit, memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan serta memiliki kesegaran jasmani dalam rangka ikut menjamin kelestarian kemerdekaan, kedaulatan serta integritas bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia terhadap ancaman dalam berbagai bentuk dan perwujudan baik dari dalam maupun luar negeri.

PENDIDIKAN DI LINGKUNGAN TNI AD
Pendidikan TNI AD sebagai salah satu sistem dalam pembinaan personel TNI AD juga berfungsi menunjang sistem pertahanan negara khususnya dan sistem tata kehidupan nasional pada umumnya. Adapun fungsi utama pendidikan TNI AD dalam sistem pembinaan prajurit TNI AD adalah meningkatkan potensi calon Prajurit dan Prajurit TNI AD agar memiliki semangat juang yang dijiwai Sapta Marga, Sumpah Prajurit, ilmu pengetahuan dan keterampilan serta kesemaptaan jasmani yang dibutuhkan untuk pelaksanaan tugas-tugas TNI AD.
Hakekat Pendidikan TNI AD adalah usaha sadar untuk membentuk dan mengembangkan personel TNI AD agar memiliki jiwa kejuangan yang tangguh dan kemampuan profesionalisme yang tinggi dalam melaksanakan tugas-tugas TNI AD. Untuk itu upaya pendidikan dilingkungan TNI AD harus senantiasa mengarah kepada terwujudnya keseimbangan antara jiwa juang dengan kemampuan profesi.
Sebagai pedoman dalam penyelenggaraan pendidikan, maka ditentukan konsepsi dasar penyelenggaraan pendidikan TNI AD yang meliputi kebijaksanaan, strategi dan penyelenggaraan pendidikan. Salah satu pokok kebijakan tersebut diantaranya adalah meningkatkan kualitas sumber daya Prajurit TNI AD, yakni meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan keterampilan, didukung oleh kondisi jasmani yang prima serta dilandasi jiwa juang yang pantang menyerah. Upaya ini dilaksanakan melalui pemantapan kinerja lemdik, kajian terhadap kurikulum, tenaga pendidik dan bahan ajaran serta pemberdayaan lembaga pendukung lainnya, khususnya yang menyangkut komponen pendidikan.
Tujuan Pendidikan adalah rumusan untuk menentukan macam keluaran bagaimana yang diharapkan pendidikan tersebut, kemudian diformulasikan kedalam kalimat yang sederhana dan jelas serta dapat dijangkau oleh kegiatan pendidikan. Formulasi ini harus mencakup semua aspek yang diharapkan setiap pendidikan dilingkungan pendidikan meliputi : aspek sikap dan perilaku, aspek pengetahuan dan keterampilan serta aspek jasmani. Tinjauan untuk menentukan formulasi tujuan pendidikan ini meliputi :
(1) Jenis pendidikan yang akan dilaksanakan, yaitu titik berat sifat pendidikan apakah bersifat pemberian awal kemampuan atau pengembangan kemampuan.(2) Kualifikasi keluaran pendidikan, yaitu titik berat tingkat kemampuan yang dicapai setelah pendidikan dari ketiga aspek baik aspek sikap dan perilaku, aspek pengetahuan dan keterampilan ataupun aspek jasmani. Formulasi tujuan pendidikan ini pada dasarnya merinci rumusan tujuan pendidikan yang telah ditentukan dalam Bujukmin tentang Pokok-pokok Pembinaan Kurikulum Pendidikan TNI AD khususnya tentang tujuan pendidikan pada setiap jenis pendidikan.
Contoh : Penentuan tujuan pendidikan Susgumil.
(1) Jenis pendidikan Susgumil adalah : Dikbangspes.(2) Rumusan tujuan Dikbangspes pada pokok-pokok pembinaan kurikulum pendidikan TNI AD, adalah : mengembangkan kemampuan para Perwira Siswa agar memiliki pengetahuan dan keterampilan (spesialisasi/kejuruan/ jabatan dan keahlian yang diperlukan untuk melaksanakan tugas-tugas Perwira kecabangan dan fungsi sesuai bidangnya) yang berjiwa Sapta Marga serta kondisi jasmani yang samapta.(3) Kualifikasi keluaran pendidikan : Mempunyai kualifikasi kemampuan sebagai Guru Militer TNI AD. Dari ketiga faktor tersebut diatas maka formulasi tujuan pendidikan Susgumil adalah sebagai berikut : “Mengembangkan kemampuan para Perwira Siswa agar memiliki pengetahuan dan keterampilan keguruan yang berjiwa Sapta Marga sebagai Guru Militer serta kondisi jasmani yang samapta”.
Menentukan Tugas-tugas Keluaran Pendidikan. Penentuan tugas-tugas keluaran didasarkan kepada tugas apa yang diemban keluaran pendidikan nantinya, melalui :
a) Jabaran tugas yang didapat dari uraian/analisa jabatan bagi pendidikan Perwira atau SJM bagi pendidikan Tamtama dan Bintara.b) Uraian/analisa jabatan yang didapat melalui pencatatan atau seleksi jabatan dengan memilih mana yang merupakan tugas pokok dan mana yang merupakan tugas sampingan, selanjutnya rumuskan ke dalam urutan tugas dengan mengabaikan tugastugas sampingan yang tidak relevan.
Menentukan Sasaran yang Ingin Dicapai.a) Sasaran yang ingin dicapai merupakan penjabaran dari hasil rumusan kebutuhan kemampuan untuk setiap tugas yang telah ditentukan dalam Tugas-Tugas Keluaran Pendidikan kemudian dipilah ke dalam tiga bidang meliputi : Bidang sikap dan perilaku, bidang pengetahuan dan keterampilan serta bidang jasmani. Dalam menentukan sasaran ini dirinci sedemikian rupa sehingga setiap kemampuan yang harus dimiliki dituntut untuk mampu melaksanakan setiap kemampuan Tugas Keluaran Pendidikan yang telah ditetapkan.
Contoh : Menentukan sasaran yang ingin dicapai pada Dikbangspes Perwira yaitu pada pendidikan Susgumil :(1) Tujuan pendidikan : sebagai Guru Militer(2) Tugas-tugas Keluaran Pendidikan :(a) Melaksanakan tugas sebagai Guru Militer.
(b) Melaksanakan tugas sebagai penyelenggara pendidikan.(3) Sasaran yang ingin dicapai :
(a) Untuk mendukung tugas-tugas Keluaran Pendidikan : Melaksanakan tugas sebagai Guru Militer sasaran yang ingin dicapai dibidang pengetahuan yang harus dimiliki antara lain :- Memiliki pengetahuan ilmu keguruan.- Memiliki pengetahuan ilmu kependidikan.
(b) Untuk mendukung tugas-tugas Keluaran Pendidikan : Melaksanakan tugas menyelenggarakan pendidikan sasaran yang ingin dicapai dibidang pengetahuan yang harus dimiliki antara lain

– Memiliki kemampuan keguruan

– Memiliki memampuan menyelenggarakan pendidikan.

– Memiliki kemampuan mengaplikasikan ilmu keguruan dan ilmu kependidikan.

TEORI TAKSONOMI BLOM
Pada analisis kurikulum (syllabus) sesuai UU Sisdiknas no 20 Tahun 2005 yang dipakai di setiap jenjang persekolahan kita, ternyata merujuk kepada pandangan seorang tokoh pendidikan penganut aliran humanis Benjamin.S.Bloom dan kawan-kawannya. Oleh sebab itu, di Indonesia taksonomi Bloom telah dikenal luas dan paling populer di lingkungan pendidikan.

Tujuan belajar yang dikemukakan oleh Bloom,dkk dirangkum ke dalam tiga-ranah beserta tingkatannya, yang disebut dengan Taksonomi Bloom. Ketiga ranah tersebut adalah Kognitif (Pengetahuan), Psikomotor(Keterampilan) dan Afektif (Sikap). Keterpaduan yang seimbang dari ketiga ranah inilah yang diharapkan dapat membentuk kompetensi seseorang.

Sulipan (2001) menyatakan: kompetensi adalah spesifikasi dari pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dimiliki seseorang serta penerapannya di dalam pekerjaan sesuai dengan tuntutan standar yang berlaku. Bloom,dkk, berpendapat bahwa ranah kognitif mempunyai enam tingkatan: Pengetahuan (mengingat,menghafal), Pemahaman (menafsirkan), Aplikasi (menggunakan konsep untuk memecahkan masalah), Analisis (menjabarkan suatu konsep), Sintesis (menggabungkan bagian-bagian konsep menjadi suatu konsep utuh), Evaluasi (membandingkan nilai-nilai, ide, metode, dan sebagainya).
Sedangkan ranah psikomotor, terdiri atas lima tingkatan : Peniruan (menirukan gerak), Penggunaan (menggunakan konsep untuk melakukan gerak), Ketepatan (melakukan gerak dengan benar), Perangkaian (melakukan beberapa gerakan sekaligus dengan benar), Naturalisasi (melakukan gerak secara wajar). Sementara ranah sikap (afektif) terdiri atas lima tingkatan,yaitu: Pengenalan (ingin menerima, sadar akan adanya sesuatu), Merespon (aktif berpartisipasi), Penghargaan (menerima nilai-nilai, setia kepada nilai-nilai tertentu), Pengorganisasian (menghubung-hubungkan nilai-nilai yang dipercayainya), Pengamalan (menjadikan nilai-nilai sebagai bagian dari pola hidupnya).

Permasalahannya sekarang ialah apakah desain kompetensi pendidikan TNI AD sudah sesuai dengan teori Blomm? Seberapa besar kopetensi pendidikan yang diselenggarakan TNI AD?Apakah desain kompetensi Pendidikan TNI AD sudah memenuhi standar kopetensi?

C. ANALISA
Kalaulah taksonomi Bloom telah dipilih sebagai salah satu yang mendasari suatu sistem pendidikan maka uraian ranah kognitif, afektif dan psikomotorik telah cukup jelas diuraikan dari :
– Proses suatu kurikulum pendidikan TNI AD
– Konsepsi dasar penyelenggaraan pendidikan TNI AD yang meliputi kebijaksanaan, strategi dan penyelenggaraan pendidikan. Salah satu pokok kebijakan tersebut diantaranya adalah meningkatkan kualitas sumber daya Prajurit TNI AD, yakni meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan keterampilan, didukung oleh kondisi jasmani yang prima serta dilandasi jiwa juang yang pantang menyerah.
– Tujuan dan sasaran pendidikan TNI AD
– Hakekat Pendidikan TNI AD
Desain standar kopetensi Pendidikan TNI AD dapat dilihat dari mulai desain indicator(TIK), yaitu pendidikan yang diselenggarakan oleh TNI AD dapat diukur, dievaluasi, dicapai dan dibuktikan melalui katdaldik tingkat operasional yaitu rumusan yang lebih spesifik yang menunjukkan suatu kompetensinya ditunjukkan melalui Tujuan Kurikuler (TK). Desain kompentensi dasar yaitu jabaran standar kopentensi yang harus dikuasai siswa ditunjukkan melalui TIU. Sedangkan standar kompetensi yang merupakan kebulatan 3 aspek yang diharapkan tercapai dari materi adalah tujuan dari setiap jenis pendidikan yang diselenggarakan.

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian deskriptif makalah dan analisa yang disampaikan maka dapat disimpulkan sebagai berikut :1. Desain kompetensi pendidikan TNI AD sudah sesuai dengan teori Blomm. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pendidikan di TNI AD telah memenuhi kopentensi berdasarkan tinjauan teori Blomm.2. Desain kompetensi Pendidikan TNI AD su dah memenuhi standar kopetensi, yang meliputi : standar kopetensi, kompetensi dasar dan indicator.

Iklan

Tentang cosmas97

Guru Militer di Pusat Pendidikan Zeni Kodiklat TNI AD
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s